The
cure of today: Rikku's Theme - Final Fantasy X

time to relax, while listening to FFX piano collection... (pic by Liz Wofle)
Belum
lama ini gw mencoba menumbalkan diri untuk lebih jauh mengetahui efek
suara binaural dalam 2 bentuk yang berbeda, yaitu musik
dan simulasi gelombang otak. Sebelum
menelanjangi perjalanan eksperimen Helda Vanessa yang heroik, ucapan
terimakasih saya hantarkan kepada pihak-pihak yang sangat membantu,
terutama Yang Terhormat Toshiba Satellite M100 dan Punyu2
Munyu yang memanaskan gairah saya di tengah kegelapan malam. Alah
Keenion KDM-219. Cough.
Mungkin
hampir 100% seluruh manusia menyukai musik, entah itu musik klasik,
hip-hop, jazz, punk, blues, pop-rock, tradisional, dan sebagainya.
Musik memang diakui memiliki afeksi kepada kondisi mental seseorang
yang kemudian dipelajari dalam psikologi musik sebagai percabangan
baik dari ilmu psikologi maupun musikologi. Musik memiliki syntax
meliputi melodi, harmoni, rhythm, meter, bentuk, dan tonalitas yang
dapat mempengaruhi mood dan perilaku secara tidak langsung. Gw
melakukan percobaan mudah yaitu secara bergantian mendengarkan genre
musik yang berbeda dalam waktu yang cukup lama. Sangat jelas
terdapat perubahan emosi yang drastis dari ketika mendengarkan
Eternity Memory of Lightwaves [Final Fantasy X] dengan Dead!
[My Chemical Romance]. Percobaan lain yang lebih intens dilakukan
oleh David Merill. Beliau
memisahkan 2 kelompok tikus yang masing-masing diperdengarkan 2 jenis
musik yang berbeda secara terus-menerus, yaitu klasik dan
heavy-metal. Eksperimen ini menunjukkan bahwa kelompok tikus musik
klasik menunjukkan peningkatan dalam perihal maze solving sedangkan
kelompok tikus heavy metal malah berakhir dengan aksi saling membunuh
1 sama lain. See? Pemaparan ini ditulis bukan dengan maksud
mengintimidasi para pecinta heavy-metal, gw lebih berniat untuk
menghighlight bahwa manusia membutuhkan
emosi yang berbeda-beda dalam hidupnya sehingga jenis
musik lain juga sangat dibutuhkan untuk melengkapi kondisi psikologis
seseorang.
Suara
binaural juga dikeluarkan dalam bentuk gelombang suara dalam
frekuensi tertentu yang dapat mempengaruhi otak. Dalam hal ini gw
menggunakan bantuan i-Doser v4,
yaitu sebuah aplikasi yang dapat mensimulasikan brainwave. Untuk
percobaan yang aman, Quick Happy adalah dosis yang gw coba
pertama kali secara fokus. Dosis ini merubah gelombang otak dari
alpha 10hz menjadi .20hz yang memberikan efek antidepresi dalam 5
menit. Gw sendiri merasakan perubahan mood yang lumayan signifikan,
setidaknya membuat tampang gw yang tadinya lempeng kaya tol Jagorawi
jadi lebih cheer-up kaya maling daleman dapet beha-nya Aoi Sora.
Dosis lain yang menarik untuk dicoba adalah alcohol. Kalau mau lebih
ekstrim, disediakan pula dosis Marijuana, Genesis dan
Hand of God yang dapat membuat seseorang melihat berbagai
halusinasi. Efek-efek narkotik tersebut benar-benar dihasilkan hanya
dari simulasi suara binaural gelombang otak. Bukankah menarik? Hanya
dengan mendengarkan suara kresek-kresek dapat membuat anda lari-lari
dan ketawa dengan bar-barnya.
Aksi
'penumbalan diri' ini membuat gw menyadari sepenuhnya bagaimana
serangkaian suara dapat begitu mempengaruhi emosi dan tindakan
manusia. Gw mengagumi bagaimana prosesnya bekerja dan mensyukurinya
sebagai salah satu bagian dari penciptaan-Nya. Dan sekali lagi,
membuat gw ingin kembali memainkan piano untuk menyenangkan hati
segala orang yang ingin mendengarkannya :)
Posted at 02:05 am by FujiwaraYuuki
 |  |  |
iMe-Q April 11, 2009 01:53 PM PDT
i-Doser 4...gue dengerin yg orgasmic apa gituh.....
bangun tidur mimpi basah dengan suksesnyah....akwkakwakwkakwka |
 |

 |  |  |
Helda April 3, 2009 07:56 PM PDT
Melivero, saya juga mainnya lebih seperti LangLang sedang hangover dengan jari habis kelindes truk bercat "RESTU IBU' itu. Makanya HANYA YANG INGIN MENDENGARKANNYA saja ;) |
 |

 |  |  |
melivero March 29, 2009 10:10 PM PDT
ck ck ck...bisa main piano...kren.
|
 |

 |  |  |
Helda March 28, 2009 12:14 AM PDT
enak ya... saya dari dulu tinggal di komplek perumahan kota. Jadi nggak ada suara aliran sungai gitu.
Musisi terhebat di dunia memang alam sih :) hihihi.
Saya kalo jazz dengerinnya yg dari luar sih. hehe |
 |

 |  |  |
escobar March 24, 2009 11:41 AM PDT
ho'oh pdhl musik klasik tuh asik bgt di dengerin, bikin suasana hati jadi sejuk apalagi kalo dengerinnya malem2...
kalo dulu malem2 sering dengerin musik klasik dari alam, pegi kepinggir sungai trus dengerin suara alam sekitar, suara air + suara jangkrik + suara angin semilir, asik dh
aq jg suka jazz, kalo di indonesia saya suka indra lesmana, tapi monita idol juga mayan kerenlho suaranya.... |
 |

 |  |  |
Helda March 23, 2009 10:27 PM PDT
iDoser juga ada lho dosis Brain+ dan Inspire :D saya belum coba sih. tapi akan segera mencoba ;D
situ suka musik klasik juga toh? hihihi. saya tergila-gila dengan musik klasik dari kecil. Ntah kenapa rata2 orang bilang membosankan, padahal menarik ^^ situ suka jenis musik apa lagi? jazz juga suka kah? ;p |
 |

 |  |  |
escobar March 23, 2009 10:09 AM PDT
memang bener jeng helda, saia jg ngerasa kalo dengerin lagu2 klasik pikiran jd lbh rileks n stress berkurang
saia dulu sering dengerin cd yg ngatur gelombang otak ke frekuensi ( saia lupa) pokoknya bikin saia jadi lbh kreatif dalam berpikir dh
ktyaknya minat jenis musik qta sama dh...!!!!!
mungkinkah seorang helda vanessa punya hobi musik yg sama dgn saia???
kalo iya... ruarrr biasa, saia bangga mengenal jeng helda hehehehe |
 |