My life still goes on: part I
The
cure of today: Clarity – John Mayer

Stop!
Why don't you go get a life??
LIFE
PART I: THE ACADEME
It's
been a while, a while since i wrote down all the excitement of life,
achievements, and bliss. So, let's quieten down, and get rid of
serious things i noted! Fuck them all. Raise up your glass, cheers!
Kalau
anda bertanya-tanya apa yang sebenarnya saya kerjakan selain
mengevaluasi dan mengkritik orang lain melalui blog kutu kupret ini,
I'm still undertaking my undergraduate course
Siklus kehidupan masih
tidak patut dicontoh seperti biasanya, menunda
pekerjaan sampai sesaat sebelum deadline, menindas
kawan yang lemah, menggesek-gesek kartu
debit untuk berhedonisasi, menggelar
jambore sekte maksiat di kamar yang berhiaskan replika gurita hitam
kayang dan beribadah menggunakan kitab
hitam Tipografi. Mengenai kuliah, CB, Teori Warna dan Nirmana
Datar hilang di peradaban semester ini. Euforia!
Sebagai gantinya,
saya menukarkan nyawa kepada mata kuliah Tiporgrafi,
Fotografi, dan DKV
I. Dosen? Kini saya harus kehilangan herr Merdi dan
mengemis nilai kepada herr Tytton
yang berdarah dingin di mata kuliah Menggambar II. Saya menduga
beliau merasakan orgasme hebat setiap kali memberikan tugas
menggambar kepada anak didiknya sehingga bisa dibayangkan betapa
senangnya beliau menghibahkan kami misi suci untuk dipenuhi
Yang
sedikit menarik adalah semester ini saya MASIH HARUS berhadapan
dengan nyonya Indra Tj, dosen
Bahasa Inggris yang memasukkan saya ke daftar hitam di semester 1.
Menarik? Ya, karena dosen ini adalah dosen yang paling sering
mendapat EYD [Ejekan
Yang Disempurnakan] di class PFU. Oh tapi tentu, saya
tidak akan menertawakannya karena dia memakai kemben
mbok jamu
jawa motif kembang ke kampus lengkap dengan atribut rambut
cepolannya. Saya juga tidak akan menertawakannya karena kemben
jawa itu pernah beliau padupadankan dengan sneakers
plus tas ransel yang aduhai kontrasnya. Apalagi mengenai
beliau membuat 1 file ppt tersendiri khusus memamerkan
dimana dia mengenyam S1, S2 dan S3-nya kepada mahasiswa di
awal perkuliahan, oh tentu saya tidak akan menertawakannya. Sungguh.
Dan jangan melihat saya dengan tatapan seperti itu *batuk
darah* 
The
academe's getting pretty lame down to the bad rescheduling. Setiap
hari pulang paling cepet jam 5 sore. Sisa waktu yang ada hanya
digunakan untuk berkerak di kasur, menggelinjang mengerjakan tugas,
dan menghibur diri bermain kelamin game. Kapasitas
saya hampir mencapai titik kulminasi
Bahkan kadar
aspirasional yang pernah saya ledakkan di awal semester ini, perlahan
luruh jadi abu (lagi). Kini setiap saya menjumpai kampus, saya harus
bergelut dengan perasaan emosional yang menggoda saya untuk melempar
bensin dan korek api ke ruang akademis sambil tertawa keji *alah*.
Tapi mengingat dana yang sudah diinvestasikan oleh orangtua, saya
hanya bisa melangkah ke dalam kelas lengkap dengan latar belakang
musik “...itulah tandanya anak berpretasi!”
shit.