|
Wednesday, July 29, 2009

The
cure of today: Balamb Garden – Nobuo Uematsu
Bitch.
It's been a while and I appear to have developed an aphasia. Feels
weird yet contented, to smack write things up again
on this dysfunctional-abusive-obnoxious-whatsoever blog, indeed. I
must catch up on my journal because I won't let you humans live out
happily ever after. Never ever. Sudah, sudah cukup
nginggris-nginggrisnya, tangan saya sudah pegal buka-buka kamus
kompeni. Ehem.
Sebelum
alinea-alinea berikutnya dijejali soliloquy berlebihan, apa kabar
para penghujat setia saya? Apa kabar boneka-boneka santet jerami yang
ditempeli label Helda Vanessa? Saya sendiri—sayang sekali—sehat
sentausa, tergolek manja di masa-masa liburan panjang memasuki
semester tiga. Tidak ada hal yang khusus selain kemampuan
destruktivitas dan menyampah saya di kamar yang semakin meninggi
*disodomi
pakai dongkrak mobil*.
Anyway speaking of sampah menyampah, beberapa waktu yang lalu user
Indonesia sempat terjadi hype sudden-nationalism. Berbagai
reasuransi, dukungan, spamming #indonesiaunite
memenuhi situs mikroblog Twitter,
bahkan sampai rela mengembel-embeli avatarnya dengan bendera
kebangsaan merah-putih. Fenomena ini awalnya terjadi sebagai reaksi
menentang aksi terorisme atas pemboman Ritz Carlton dan Marriott.
Aksi heroik, sampai 24 jam pertama. Pada jam-jam berikutnya
#indonesiaunite lebih mirip sebagai trend nasionalisme yang
repulsif dan histrionik. Sebut saja kata Nasionalisme
di depan muda-mudi beberapa jam sebelum aksi detonasi, mungkin hanya
alis sebelah yang terangkat curam lalu serentetan sumpah serapah
mengikuti dalam birama 2/4 yang keluar. Ironis bagaimana dua buah bom
dapat membeli rasa nasionalisme yang
tadinya dianaktirikan kemudian mudah diucap. Seperti puluhan karya
Van Gogh, seperti putarbalik justifikasi media massa terhadap MJ dari
pedofilia menjadi raja, seperti itik buruk rupa yang dipujapuji
setelah tumbuh menjadi angsa.
Jujur
saja, saya bukan seorang nasionalis, tetapi seorang realis. Bagi saya
nasionalisme adalah bukan berarti harus
dilihat kekuatannya di mata dunia, bukan sesuatu yang harus
dikoar-koarkan, bukan hanya beratribut pujian lalu selesai, bukan
sebagai alibi untuk tumpang naik pamor dan sejenisnya. Keindahan
nasionalisme muncul dalam ketulusan
ketika melakukan hal-hal kecil tanpa harus terlalu diumbar. Kekuatan
nasionalisme muncul dalam pemikiran dan
kritik-kritik untuk keadaan bangsa yang lebih baik. Sejauh ini
pertanyaan yang menggelitik saya cuma “sampai kapan kalian bisa
bertahan?” .. I might sound way pessimistic. Saya percaya masih
banyak warga negara Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme
yang utuh, bukan seperti rambutan yang main musiman atau cuma liat
kondisi situasi, bukan yang 'pasang bendera dulu, intinya
belakangan'. Seperti mencintai seseorang, mencintai negri sendiri
juga membutuhkan waktu dan proses. Cinta itu tumbuh, bukan sesuatu
yang mendadak nangkring lalu pegal dan jatuh. Tak perlu berbicara
besar-besaran kalau belum memulai dari yang kecil. Tidak perlu
#indonesiaunite dulu. Tidak perlu. Cukup
dengan secangkir kopi dulu. Sungguh.
Posted at 01:34 pm by FujiwaraYuuki
 |  |  | Purisuka August 1, 2009 10:31 PM PDT
kalo kata gw gerakan #indonesiaunite ini bagus pada awal2nya aja....lama kelamaan tweets-nya jadi pada maksa dan dibuat-buat...
btw gw jg termasuk yg memasang bendera merah putih di avatar dan gak nyesel makenya, alasannya sama seperti pada komen saudara Seyren di bawah *btw salam kenal seyren :)*, sama sekali bukan mau sok sok nasionalis atau apa :P
oiya ada satu tulisan bagus tentang hal ini juga dari salah satu blogger:
http://rumputeki.multiply.com/journal/item/202/202 |  |
  |  |  | dewi persik July 30, 2009 12:26 PM PDT
saye syudeh meramalkan sebelumnya kalo #indonesiaunite itu hangat hangat tai ayam, tetapi saya sependapat dengan ses seyren *sungkar*, seperti peribahasa yang ada di buku tulis sinar dunia, lebih baik sedikit lama lama jadi bukit *ah, mirip seperti itulah*.
semoga ses mengerti apa maksut dan tujuan saya. saya agak gagap kalau bicara.
unee, kamu didenda karena menggunakan hashtag tidak pada tempatnya.
salam hangat selalu dari bunda,
ajeng syahreza *cups |  |
  |  |  | Seyren July 29, 2009 06:45 PM PDT
Haha, I think this just shows how #indonesiaunite is a lot of things to a lot of people, Da. :)
I'm not a nationalist. Never was, never will be. Walopun avatar Twitter gw diembel-embeli bendera merah putih yang kecil itu, gw ga nempelin itu hanya supaya gw bisa ikut-ikutan teriak-teriak soal "ga takut" atau memuja-muja Indonesia bareng muda-mudi laen di topik itu. In fact, I barely use #indonesiaunite at all in my tweets.
Buat gw, keberadaan bendera di avatar gw itu bukan untuk nunjukin kalo gw punya rasa nasionalisme yang tinggi dan siap menumpahkan darah melawan teroris yang berani menginjakkan kaki di negara gw, oh bukan. Malah kalo mau jujur, I care about humanity a lot more than I care about Indonesia (maafkan anakmu ini, oh Ibu Pertiwi). Untuk gw pribadi, bendera itu adalah simbol, untuk nunjukin kalo gw adalah warga negara Indonesia yang tau soal pengeboman itu dan ikut berduka untuk semua korban, dan juga untuk nunjukin kalo gw sedikit mirip sama Zhang Ziyi. *dirajam batu oleh massa*
The killing of innocents is probably the one thing I detest more than Manohara (alah), dan gw yakin perasaan gw terhadap hal itu akan tetap ada walopun "nasionalisme dadakan" itu sudah lama terlewat. :)
Dan maafkan aku yang sudah menyampah panjang lebar di blogmu hanya untuk menambahkan pandangan saya terhadap #indonesiaunite ini, djeng Helda. *cuph* |  |
  |  |  | Helda July 29, 2009 02:06 PM PDT
ah Unee, ga usah denial begitu,
aku ga keberatan kok di-ngepens-in. Gapapa kok, beneran. Santai aja kali. uhuk. *diunyengunyeng* |  |
  |  |  | unee July 29, 2009 01:48 PM PDT
Adduhhh.. saya juga mau nulis iniiii.
AH !!
Saya pasti dikira ngepens sama situ.
Padahal saya kan ngepensnya sama #FPS
* penggunaan hashtag yang tidak pada tempatnya * |  |
|
|