|
Thursday, September 17, 2009
Teman-temanku yang Budiman
The
cure of today: Fool on Parade – Marie Digby

I
might not be the best friend you could ever have.
Masalahnya
ada pada mulut gw yang bertindak separatis, bertindak frontal tanpa
ada musyawarah mufakat dengan otak dan perasaan manusiawi. Umpamanya,
bila saya adalah mainan Barbie seri terbaru, mulut dan badan saya
pasti dijual terpisah ehem. Setengah merajah okultisme, adalah sifat
alami para Leo untuk bertindak tempe dan ramen dan straight to the
point kepada hal yg tidak disukainya. Dipercaya ini dipengaruhi oleh
planet Uranus yg secara misterius mengandung kata ANUS di dalamnya.
Ini merupakan misteri Oke, skip. Inilah yg membuat gw agak susah
punya teman non-psikotik atau teman neurotik atau teman
hujat-able. Dua kata terakhir mohon distabilo kuning neon.
Bukan
berarti semua orang harus bersikap ini itu. Toh gw pun tak selalu
seperti apa yang diharapkan orang lain, tetapi yang namanya ekspetasi
pasti setiap orang punya. Kadang orang-orang jadi berpikir bahwa gw
adalah tokoh meta-protagonis yang berpikir semena-mena terhadap orang
lain, tentu dalam edisi tanpa eyeshadow hijau berglitter, eyeliner,
bulu mata palsu tebal, mata menyipit dan rahang meggelinjang. In
fact, ketika seseorang meng-insult orang lain, dua kemungkinan yg
terjadi adalah subjek yang superfisial atau memang si objek sendiri
yg mengundang mispersepsi dan konfrontasi dan
90% penghujat yang berkelamin vagina kemungkinan mengaku karena PMS.
Nggak mungkin juga kan gw merilis berbagai hujatan tanpa alasan yg
nggak jelas? Kecuali tentu kalau ananda punya tameng PMS *batuk
rejan*. Pertanyaannya adalah, bukankah Toko Gunung Agung
seharusnya menjual gunung? ..oke, skip. Orang-orang yang mengundang
masalah ini berasal dari berbagai jenis yang gw bagi jadi 5 tipe,
yaitu:
1.
Tipe Saya [terlalu] Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
Tipe
yang satu ini selalu siap stok berbagai ayat suci sebagai pendukung
untuk menginterupsi pendapat orang lain, bahkan untuk sekedar
pendapat yang sifatnya hanya sekilas angan-angan. Orang tipe ini
sangat memuja agamanya sehingga tidak mengenal hal duniawi lagi dan
mengaku selalu ingin mendekatkan pada Tuhan yang otomatis rasanya
ingin saya lebih dekatkan lagi kepada Tuhan di akhirat. Contohnya:
[Orang
A]: coba kalau beneran ada alien kayak Keanu Reeves.. [Orang
B]: TETAPI TUHAN MENYEBUTKAN BAHWA ALIEN ITU TIDAK ADA
SEPERTI PADA AYAT.. *pret*
2.
Tipe Saya Anak Gahul dan Trendi
Tipe
yang satu ini adalah tipe yang selalu mengupdate segala kegiatannya
di Facebook/Twitter dengan akidah “saya
gaul banget lho update terus”, selalu berusaha
menyebutkan nama merk dan tempat yang diasumsikan sangat
sophisticated, dan berpakaian khas, ntah itu sejenis dengan pakaian
yg sedang merajalela atau jauh dari mainstream tapi jatohnya maksa.
Dan bahasa Inggris ga jelas. Contohnya:
[username]
going to Starbucks @ Sarinah. Let's rape. [username]
going shop to Plaza Indonesia.
3.
Tipe c0mBonG bGtz ciYy,,
Adalah
tipe orang yang menggunakan metode enkripsi canggih pada
tulisan-tulisannya sehingga butuh meditasi 4 hari untuk orang normal
untuk dapat membacanya. Tipe ini juga sangat sensitif dan sangat
tidak sabar. Bila sebentar atau agak lama menanggapi pesan yang
mereka kirim, mereka akan sigap mengirim rentetan pesan yang
menanyakan kenapa anda tidak balas pesannya dan sebagainya dalam
selang waktu beberapa puluh detik saja. Bila tidak ditindaklanjuti,
tipe ini akan langsung mengatai anda sombong. Yeah.
4.
Tipe [agak] Eksis dan Haus Pujian serta Simpati.
Tipe
ini adalah yang selalu menulis statusnya dengan pengakuan yang ingin
mendapat pujian dan simpati dari orang lain. Biasanya berisi monolog
dia untuk Tuhan atau memamerkan sesuatu yang [sebenarnya bukan yang]
bisa dipuji oleh banyak temannya. Kadang mirip dengan tipe 2.
Contohnya:
“Tuhan,
kenapa Engkau memberikanku luka di hati ini, dia tidak bisa blabla..”
emangnya
Tuhan main FB? “...ada
38 new messages, 92 friend requests, dan 4.937 friends di FB” “Mending
ke Bandung atau shooting ya?”
..tolong kecup kaus saya, mbak artis!
5.
Tipe Sok Kenal dan Sok Tau
Tipe
yang satu ini sangat menyebalkan. Selain karena tidak begitu kenal
tapi serasa sudah melewati 1000 malam bersama, terkadang melontarkan
pernyataan sok tahu. Biasanya ini adalah sindrom orang-orang yang
agak mengidolakan anda atau mengidap narsisme yang menghindari benda
kaca. Repotnya, kalau ditanggapi baik-baik dan agak intens,
perasaannya akan melejit sehingga tambah seperti sudah 2000 malam
bersama. Kalau pun dikonfrontasi, mentalnya akan hancur sehingga
berbalik mengatai anda. Contohnya,
[username]
hai, lagi ngapain nih? Udah makan belum? Kangen u deh. [username]
pacarmu yang mana sih? Pasti kamu sama dia blabla..
Jadi,
bila anda termasuk ke dalam salah 1 kategori di atas, dengan segenap
hati dan jiwa raga dan segala birahi, lebih baik jauhi saya saja.
Terimakasih.
Posted at 05:25 pm by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
Wednesday, July 29, 2009

The
cure of today: Balamb Garden – Nobuo Uematsu
Bitch.
It's been a while and I appear to have developed an aphasia. Feels
weird yet contented, to smack write things up again
on this dysfunctional-abusive-obnoxious-whatsoever blog, indeed. I
must catch up on my journal because I won't let you humans live out
happily ever after. Never ever. Sudah, sudah cukup
nginggris-nginggrisnya, tangan saya sudah pegal buka-buka kamus
kompeni. Ehem.
Sebelum
alinea-alinea berikutnya dijejali soliloquy berlebihan, apa kabar
para penghujat setia saya? Apa kabar boneka-boneka santet jerami yang
ditempeli label Helda Vanessa? Saya sendiri—sayang sekali—sehat
sentausa, tergolek manja di masa-masa liburan panjang memasuki
semester tiga. Tidak ada hal yang khusus selain kemampuan
destruktivitas dan menyampah saya di kamar yang semakin meninggi
*disodomi
pakai dongkrak mobil*.
Anyway speaking of sampah menyampah, beberapa waktu yang lalu user
Indonesia sempat terjadi hype sudden-nationalism. Berbagai
reasuransi, dukungan, spamming #indonesiaunite
memenuhi situs mikroblog Twitter,
bahkan sampai rela mengembel-embeli avatarnya dengan bendera
kebangsaan merah-putih. Fenomena ini awalnya terjadi sebagai reaksi
menentang aksi terorisme atas pemboman Ritz Carlton dan Marriott.
Aksi heroik, sampai 24 jam pertama. Pada jam-jam berikutnya
#indonesiaunite lebih mirip sebagai trend nasionalisme yang
repulsif dan histrionik. Sebut saja kata Nasionalisme
di depan muda-mudi beberapa jam sebelum aksi detonasi, mungkin hanya
alis sebelah yang terangkat curam lalu serentetan sumpah serapah
mengikuti dalam birama 2/4 yang keluar. Ironis bagaimana dua buah bom
dapat membeli rasa nasionalisme yang
tadinya dianaktirikan kemudian mudah diucap. Seperti puluhan karya
Van Gogh, seperti putarbalik justifikasi media massa terhadap MJ dari
pedofilia menjadi raja, seperti itik buruk rupa yang dipujapuji
setelah tumbuh menjadi angsa.
Jujur
saja, saya bukan seorang nasionalis, tetapi seorang realis. Bagi saya
nasionalisme adalah bukan berarti harus
dilihat kekuatannya di mata dunia, bukan sesuatu yang harus
dikoar-koarkan, bukan hanya beratribut pujian lalu selesai, bukan
sebagai alibi untuk tumpang naik pamor dan sejenisnya. Keindahan
nasionalisme muncul dalam ketulusan
ketika melakukan hal-hal kecil tanpa harus terlalu diumbar. Kekuatan
nasionalisme muncul dalam pemikiran dan
kritik-kritik untuk keadaan bangsa yang lebih baik. Sejauh ini
pertanyaan yang menggelitik saya cuma “sampai kapan kalian bisa
bertahan?” .. I might sound way pessimistic. Saya percaya masih
banyak warga negara Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme
yang utuh, bukan seperti rambutan yang main musiman atau cuma liat
kondisi situasi, bukan yang 'pasang bendera dulu, intinya
belakangan'. Seperti mencintai seseorang, mencintai negri sendiri
juga membutuhkan waktu dan proses. Cinta itu tumbuh, bukan sesuatu
yang mendadak nangkring lalu pegal dan jatuh. Tak perlu berbicara
besar-besaran kalau belum memulai dari yang kecil. Tidak perlu
#indonesiaunite dulu. Tidak perlu. Cukup
dengan secangkir kopi dulu. Sungguh.
Posted at 01:34 pm by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
Saturday, May 30, 2009
The
cure of today: Science and Religion – Hans Zimmer

Beberapa
waktu yang lalu secara dadakan saya melasak menuju Djakarta XXI
untuk bertemu beberapa teman dan membiarkan mata sedikit berajojing
mantengin Mr. Bale di film Terminator Salvation.
Tapi saya bukan mau membahas soal si Bale efek 3D CGA, dan segala
macam tetek bengek Terminator di sini, jadi simpan saja seluruh
pikiran kotor anda itu. Ihiy Sebelum menjajal kursi bohay XXI, saya
dan pasukan terlebih dahulu menjajah Burger King. Setelah bergunjing
beberapa saat, salah satu teman, sebut saja V, mengkonfrontasi teman
saya yang lain, sebut saja S, mengenai cara berbicaranya yang
menginterspersi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara tidak
natural. Interspersi tidak natural yang dimaksud di sini adalah
pencampuran dua bahasa di atas dengan aksen, penempatan, dan grammar
(meski yang
satu ini sebenarnya tidak begitu diperlukan dalam daily conversation,
bukan berarti lo bisa pakai seenak jidat juga kan *smirks*)
yang tidak tepat sehingga saya pun cuma bisa bilang ...AI DONT RIHLI
RIHLI ANDERSTEND WHUAT YU AR TOLKING EBAUT. Ah, dan tolong baca
kalimat tersebut dalam aksen India.
So,
have you ever encountered people of this type? 
Untuk
fasih dan lihai dalam sesuatu memang dibutuhkan efforts dan pasti
melalui berbagai macam kesalahan atau disebut juga dengan proses.
Pada tahap ini, mencampuradukkan bahasa merupakan hal yang dapat
dimaklumi dalam konteks tertentu. Kalau berbicara kenapa,
seringkali alis saya jungkat-jungkit melihat orang-orang yang
menggunakan Bahasa Inggris dengan struktur benang kusut cuma karena
mau dibilang keren (atau
mungkin obsesi go internasional-internasionalan kayak Agnes Monicah?
HUAHAUHA). Tidak susah menemukan kalimat semacam “I
am liking to photograph” atau “He
bitch. Dasar cewe jalang. I hate her, dun want see he again”
(ini apa
pula, main ganti-ganti kelamin.XD Demi Surga) di
mikroblog, profile page FS, FB, dan seterusnya. Bloody Chihuahua,
I've had enough of this Cukup mengherankan bila mengingat rata-rata
oknum tersebut setidaknya sedang atau sudah mengenyam bangku SMA yang
notabene berarti setidaknya sudah menelan pelajaran Bahasa Inggris
lebih dari 5 tahun. Kalau sudah begini, dengan berat hati saya harus
sedikit menghujat. Ah, dengan TOEFL akhir SMA cuma 530an saja saya
sudah pongah minta ampun begini. Bitch.
Play
it safe. Belajar lah bahwa: usaha pas-pasan
plus salah lokasi plus show
off plus bukan Cinta Laura
*kayang* equals disaster.
Kalau mau dianggap keren, (sangat diusahakan) gunakan dengan benar.
You really have no idea, mungkin beberapa orang tak sengaja menangkap
gaya ngeINDONGGRIS-INDONGGRIS™ anda itu diam hampir mati menahan
ketawa atau sibuk menghujat ketidaktepatan aksen & struktur dalam
hati. Yah kalo misalkan anda menggelar jambore khusus untuk para
INDONGGRIS-INDONGGRIS™an sih aman-aman saja mau keren-kerenan pake
Inggris yang noun kebolak-balik sama adjective dan past tense
dicampurin present tense dengan tak senonoh dicampur aksen bugis plus
aborigin. Sebagai pecinta Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, to be
honest, i feel insulted. Saya sendiri adalah pengguna Indoenglish
dalam tempat atau situasi tertentu. Seperti blog, Twitter, atau di
suasana dimana saya mau meng-offense orang lain *HUAHAUHA *. Dengan pertimbangan yang tepat kapan harus mengunakan bahasa asing dan bahasa nasional, i feel so sexy ;)
Posted at 11:50 pm by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
Thursday, May 14, 2009
The
cure of today: Consepontowa – Leh

“Ceritakan,
ada apa?” kau mencicit pura-pura perhatian.
“Ya
begitulah...” suaraku meringsek juga.
Lalu
balada murahan kita dimulai. Manis dan enigmatis. Romantis? Najis.
Kau
menawarkan secangkir kopi dalam metafor. Sesekali tertawa bersama,
tinggal seset rambutku 10 senti, kita dua mirip bujang tak ada
kerjaan. Pria dibalik saluran bertarif murah itu menyeret-nyeretkan
suaranya. Sok sensual, aku melengos. Kau tersenyum simpul mati lalu
tertawa parau. Jam 3 pagi dan kita berbincang lagi, bergagauan lagi,
bersimbah cinta lagi, kemudian masing-masing akan menutup telepon
sambil menahan rindu. Hih, kok norak sekali. Beginilah jadinya bila
dua muda mudi yang mengeja 'MEMBACA' saja terbata-bata ─mencoba
menyabung kasih. Manis dan enigmatis.
“Jangan-jangan
nanti kamu menginap bersama teman wanita.” satu alisku terangkat
curam.
“Aku
menginap bersama teman pria.” kau tersenyum menang.
“KETAHUAN
SEKARANG, KAMU HOMO.” jelas, aku lebih menang. Manis dan enigmatis.
Lalu
dengan gejolak hormon layaknya serdadu, kau ajak temu. Aku risau
hingga geraham bergetar, mondar-mandir ke titik yang sama dimana
cermin berada. Setelah lama membelak, tak ada yang bermasalah kecuali
memang struktur wajah yang patut dapat belasungkawa. Telepon
genggamku bergetar tanda kau sudah di depan, oh inang. Kubuka pintu
dan disitulah kau menyunggingkan senyum kuda. Kuda putih tanpa
pangeran penunggangnya. Khayalku akan Cinderella berubah menjadi
fabel kacangan, terimakasih. Aku tertawa sumbang dalam birama 4/4,
menahan rasa malu tiap melihatmu. Lantas kau mengeluarkan keripik
singkong kebanggaanmu untuk dimakan berdua. Ha. Keripik singkong kan
makanan sipil, protesku. Kau tertawa, keripik aku habiskan semua,
lalu kita berangkulan bersama. Manis seperti biang gula.
Kamar
ini sudah terlalu bau cinta, dan keringat kita. Kau
pura-pura tertidur. Aku pura-pura tak tertidur. Salah
satu mengintip penuh harap, lainnya menunggu hingga sarap. Lalu
kita lumat lagi, lagi, dan lagi. Manis. Enigmatis.
Oleh:
Helda Vanessa Inspired
by a true story :p
Posted at 02:18 pm by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
Tuesday, May 12, 2009
The
cure of today: Honeysuckle – Orange Pekoe
Jangan
senang dulu. Saya masih hidup.
Jadi
lupakan usaha anda membakar kemenyan, dupa, dan bunga tujuh rupa demi
matinya blog ini. Sungguh. Lebih baik bakar saja asmara saya. Ehem.
Rasanya sudah lama sekali tidak menulis blog, kemampuan diksi &
abominasi saya bahkan melemah. Tampaknya hal ini menjadi indikator
kuat bahwa dunia mendekati Armageddon. Ah, pembicaraan ini jadi
semakin keluar konteks. Lalu, lalu, dengan tak tahu malu saya kembali
mengisi blog disfungsional ini karena desakan kaum sipil *HUAHAHA*
yang sepertinya merindukan kenajisan saya. Saya terharu karena
beberapa kali menggelar konversasi ringan (yailah,
bilang aja ngobrol) dengan beberapan teman(s), hampir selalu
mendapati pertanyaan, “lagi sibuk ya? Update
lagi dong blog-nya,” ..rasanya saya ingin sekali menjabat
tangan manusia-manusia luar biasa ini satu per satu lalu berteriak,
“OTAK KALIAN SUDAH DICUCI, KISANAK! HUAHAHAHAHAHA” --ehem.
Ah, penulis macam apa saya ini, tidak ada manis-manisnya. Baiklah,
sekian aja untuk preambul.
Kembali
pada sebuah pertanyaan klise, bagaimana kabar
saya? Lalu songsong dengan jawaban klise pula, kabar
saya baik-baik saja. Pada poin ini tepat sekali jika anda
berteriak “GET A LIFE, BITCH!” kemudian menarik pelatuk
headshot ke kening Helda Vanessa. Uhuk. Sebenarnya pun saya tidak
sesibuk itu, hanya saja karena terlalu asik dengan dunia sureal
sendiri, jari jemari saya menjadi malas mengetik panjang-panjang.
Terkadang ketika mood nulis kritikan blog muncul,
kondisi fisik saya sedang tidak memungkinkan. Sehubungan soal fisik,
frekuensi saya jatuh sakit sekarang meningkat tajam seiring
bertambahnya film horror Indonesia. Hih. Gejalanya pasti demam, badan
nyeri-nyeri, perut sakit, kepala senut-senut, wajah imut-imut
*cough*. Dan pada akhirnya
saya memilih mendekam terus di kamar, bergelung dalam selimut,
membayangkan beberapa hari ke depan seseorang akan menemukan saya
sudah terkujur kaku dikerubungi sekelompok merpati putih nan lucu.
BAGAIMANA PULA BISA ADA MERPATI DI DALAM KAMAR?! Ah, sudahlah.
Sepertinya logika saya sudah tercampuraduk dengan bayang-bayang Kid
si Pembantai. Atau Batosai si Pencuri? Hmm.
Nulis
apa lagi ya... otak saya terasa kebas.
Oh
iya, follow saya di Twitter dong, http://twitter.com/frauassenava Yang
nggak punya Twitter, ayo sign up biar bisa nge-follow saya. Ih,
motivasinya norak. Huahahahaha.
Posted at 12:22 pm by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
Friday, April 03, 2009
The
cure of today: Part of Your World – OST Little Mermaid

MASIH JUGA KAU TIDAK PEDULI? Saya tidak mengakuimu sebagai ibu lagi. Tidak akan lagi. Sampai kapan pun. Terimakasih atas sumbangasih mu membuat luka. Pada ayah, saya, dan mereka.
Posted at 08:20 pm by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
Saturday, March 28, 2009
I have the power of choose.
The
cure of today: Hide and Seek – Imogen Heap
Setelah
18 tahun 8 bulan lamanya, Setelah
jatuh bangun dinasti Yuan, Ming, Qing, Njing,
Nyet, Setelah
7 seri Tersanjung, 7 deadly sins, dan 7 jilid Heri Poter, Outrageously,
surreally, despicably,
Saya
berencana untuk mengkonversikan kepercayaan saya.
Keputusan
ini tidak dibuat semudah menghitung bulu kaki atau mengupas kulit
duren dengan tusuk gigi. Banyak pertimbangan yang membuat otak kebas,
seriously. Terlebih, pada dasarnya gw amat sensitif dengan masalah
prinsipil dan menolak mentah-mentah dogmatisme. Bagi gw agama
atau kepercayaan adalah hal yang sangat subjektif karena pokok utama
yang diinterpretasikan adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya valid.
Karena alasan ini untuk beberapa tahun lamanya gw diam-diam lebih
memilih tidak berurusan dengan agama apa pun secara spesifik, meski
secara spiritual tetap percaya akan adanya Tuhan. Berada dalam status
Universalis juga bukan hal yang mudah karena gw benar-benar meraba
dan menentukan sendiri apa aja yang akan djadikan sebagai tonggak
ukur. Melelahkan, harus gw akui. Seperti
yang udah gw tulis di atas, pada akhirnya gw merencanakan untuk
melakukan konversi kepercayaan yang akan terlebihdahulu dimulai
dengan mematangkan pemahaman akan agama tersebut. Bukan berarti gw
mengeradikasi prinsip postmo yang selama ini gw sanjung. Sejujurnya,
justru kepercayaan yang gw pilih ini, yaitu Buddhism, adalah
paham yang sejauh ini paling merepresentasikan
pandangan gw akan kehidupan. Gw hanya mengharapkan sebuah
pengertian, tanpa menuding-nuding bahwa gw telah menjadi korban
Proselytism dan sebagainya. Gw hanya berusaha untuk tidak munafik,
menentukan sendiri apa yang sekiranya terbaik buat gw. Prosesnya pun
akan masih sangat panjang dan gw akan berusaha untuk menjalaninya.
Thankyou :)
p
to the s: buat yang
memiliki jalan pikir yang sama, saya pastikan bahwa jaminan kebebasan
memilih kepercayaan ada di sini.
Baca juga ini.:)
Posted at 01:18 am by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
Saturday, March 21, 2009
My life still goes on: part I
The
cure of today: Clarity – John Mayer
 Stop!
Why don't you go get a life??
LIFE
PART I: THE ACADEME
It's
been a while, a while since i wrote down all the excitement of life,
achievements, and bliss. So, let's quieten down, and get rid of
serious things i noted! Fuck them all. Raise up your glass, cheers!
Kalau
anda bertanya-tanya apa yang sebenarnya saya kerjakan selain
mengevaluasi dan mengkritik orang lain melalui blog kutu kupret ini,
I'm still undertaking my undergraduate course Siklus kehidupan masih
tidak patut dicontoh seperti biasanya, menunda
pekerjaan sampai sesaat sebelum deadline, menindas
kawan yang lemah, menggesek-gesek kartu
debit untuk berhedonisasi, menggelar
jambore sekte maksiat di kamar yang berhiaskan replika gurita hitam
kayang dan beribadah menggunakan kitab
hitam Tipografi. Mengenai kuliah, CB, Teori Warna dan Nirmana
Datar hilang di peradaban semester ini. Euforia! Sebagai gantinya,
saya menukarkan nyawa kepada mata kuliah Tiporgrafi,
Fotografi, dan DKV
I. Dosen? Kini saya harus kehilangan herr Merdi dan
mengemis nilai kepada herr Tytton
yang berdarah dingin di mata kuliah Menggambar II. Saya menduga
beliau merasakan orgasme hebat setiap kali memberikan tugas
menggambar kepada anak didiknya sehingga bisa dibayangkan betapa
senangnya beliau menghibahkan kami misi suci untuk dipenuhi Yang
sedikit menarik adalah semester ini saya MASIH HARUS berhadapan
dengan nyonya Indra Tj, dosen
Bahasa Inggris yang memasukkan saya ke daftar hitam di semester 1.
Menarik? Ya, karena dosen ini adalah dosen yang paling sering
mendapat EYD [Ejekan
Yang Disempurnakan] di class PFU. Oh tapi tentu, saya
tidak akan menertawakannya karena dia memakai kemben
mbok jamu
jawa motif kembang ke kampus lengkap dengan atribut rambut
cepolannya. Saya juga tidak akan menertawakannya karena kemben
jawa itu pernah beliau padupadankan dengan sneakers
plus tas ransel yang aduhai kontrasnya. Apalagi mengenai
beliau membuat 1 file ppt tersendiri khusus memamerkan
dimana dia mengenyam S1, S2 dan S3-nya kepada mahasiswa di
awal perkuliahan, oh tentu saya tidak akan menertawakannya. Sungguh.
Dan jangan melihat saya dengan tatapan seperti itu *batuk
darah* 
The
academe's getting pretty lame down to the bad rescheduling. Setiap
hari pulang paling cepet jam 5 sore. Sisa waktu yang ada hanya
digunakan untuk berkerak di kasur, menggelinjang mengerjakan tugas,
dan menghibur diri bermain kelamin game. Kapasitas
saya hampir mencapai titik kulminasi Bahkan kadar
aspirasional yang pernah saya ledakkan di awal semester ini, perlahan
luruh jadi abu (lagi). Kini setiap saya menjumpai kampus, saya harus
bergelut dengan perasaan emosional yang menggoda saya untuk melempar
bensin dan korek api ke ruang akademis sambil tertawa keji *alah*.
Tapi mengingat dana yang sudah diinvestasikan oleh orangtua, saya
hanya bisa melangkah ke dalam kelas lengkap dengan latar belakang
musik “...itulah tandanya anak berpretasi!”
shit.
Posted at 11:53 pm by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
The
cure of today: Rikku's Theme - Final Fantasy X
 time to relax, while listening to FFX piano collection... (pic by Liz Wofle)
Belum
lama ini gw mencoba menumbalkan diri untuk lebih jauh mengetahui efek
suara binaural dalam 2 bentuk yang berbeda, yaitu musik
dan simulasi gelombang otak. Sebelum
menelanjangi perjalanan eksperimen Helda Vanessa yang heroik, ucapan
terimakasih saya hantarkan kepada pihak-pihak yang sangat membantu,
terutama Yang Terhormat Toshiba Satellite M100 dan Punyu2
Munyu yang memanaskan gairah saya di tengah kegelapan malam. Alah
Keenion KDM-219. Cough.
Mungkin
hampir 100% seluruh manusia menyukai musik, entah itu musik klasik,
hip-hop, jazz, punk, blues, pop-rock, tradisional, dan sebagainya.
Musik memang diakui memiliki afeksi kepada kondisi mental seseorang
yang kemudian dipelajari dalam psikologi musik sebagai percabangan
baik dari ilmu psikologi maupun musikologi. Musik memiliki syntax
meliputi melodi, harmoni, rhythm, meter, bentuk, dan tonalitas yang
dapat mempengaruhi mood dan perilaku secara tidak langsung. Gw
melakukan percobaan mudah yaitu secara bergantian mendengarkan genre
musik yang berbeda dalam waktu yang cukup lama. Sangat jelas
terdapat perubahan emosi yang drastis dari ketika mendengarkan
Eternity Memory of Lightwaves [Final Fantasy X] dengan Dead!
[My Chemical Romance]. Percobaan lain yang lebih intens dilakukan
oleh David Merill. Beliau
memisahkan 2 kelompok tikus yang masing-masing diperdengarkan 2 jenis
musik yang berbeda secara terus-menerus, yaitu klasik dan
heavy-metal. Eksperimen ini menunjukkan bahwa kelompok tikus musik
klasik menunjukkan peningkatan dalam perihal maze solving sedangkan
kelompok tikus heavy metal malah berakhir dengan aksi saling membunuh
1 sama lain. See? Pemaparan ini ditulis bukan dengan maksud
mengintimidasi para pecinta heavy-metal, gw lebih berniat untuk
menghighlight bahwa manusia membutuhkan
emosi yang berbeda-beda dalam hidupnya sehingga jenis
musik lain juga sangat dibutuhkan untuk melengkapi kondisi psikologis
seseorang.
Suara
binaural juga dikeluarkan dalam bentuk gelombang suara dalam
frekuensi tertentu yang dapat mempengaruhi otak. Dalam hal ini gw
menggunakan bantuan i-Doser v4,
yaitu sebuah aplikasi yang dapat mensimulasikan brainwave. Untuk
percobaan yang aman, Quick Happy adalah dosis yang gw coba
pertama kali secara fokus. Dosis ini merubah gelombang otak dari
alpha 10hz menjadi .20hz yang memberikan efek antidepresi dalam 5
menit. Gw sendiri merasakan perubahan mood yang lumayan signifikan,
setidaknya membuat tampang gw yang tadinya lempeng kaya tol Jagorawi
jadi lebih cheer-up kaya maling daleman dapet beha-nya Aoi Sora.
Dosis lain yang menarik untuk dicoba adalah alcohol. Kalau mau lebih
ekstrim, disediakan pula dosis Marijuana, Genesis dan
Hand of God yang dapat membuat seseorang melihat berbagai
halusinasi. Efek-efek narkotik tersebut benar-benar dihasilkan hanya
dari simulasi suara binaural gelombang otak. Bukankah menarik? Hanya
dengan mendengarkan suara kresek-kresek dapat membuat anda lari-lari
dan ketawa dengan bar-barnya.
Aksi
'penumbalan diri' ini membuat gw menyadari sepenuhnya bagaimana
serangkaian suara dapat begitu mempengaruhi emosi dan tindakan
manusia. Gw mengagumi bagaimana prosesnya bekerja dan mensyukurinya
sebagai salah satu bagian dari penciptaan-Nya. Dan sekali lagi,
membuat gw ingin kembali memainkan piano untuk menyenangkan hati
segala orang yang ingin mendengarkannya :)
Posted at 02:05 am by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
Friday, March 20, 2009
Photography I: Hunt or be hunted?
 Ki-ka: Ghea, Ratna, Catherine, Eunike, Helda, Jennyver IT WAS FUN, GIRLS :)
Posted at 05:45 pm by FujiwaraYuuki
SINNOCENT
|
|