a lil space to veg out for a while …

   

<< September 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

Helda Vanessa
18 years old
A DKV Student of Binus
Somewhat.. Messy . Adorable . Complicated . Silly . SINnocent . Dullheaded . Hentai . Weirdo . Loudmouthed . Bookworm . Extreme . Careless

FUN FACTS About Me
YM: sakuragi_coy
MSN: sakuragi_coy@hot

    follow me on Twitter


    Free Hit Counters
    Free Hit Counters

    .I Support These Bands.

    Matryoshka


    Organic Stereo


    DEPAPEPE

    Support this blog by put this Ads


    .I Heart Them.
    Amanda Aurora
    Dodol-Lu-Ryen
    Pecinta Lelaki Tampan
    Life in Scribbles
    Jovi the Crow
    Deadmeat Nyuu
    Hasanta You-Ji
    Lovesickness
    Kenji Uchiha.xD
    The Super Koma
    Miss Jenniver
    Purisuka
    Gilang
    Vazilization
    Govinda Rumi
    Sherlee Gunawan
    The Way of Hime
    Geek in the Pink
    Cerulean Gemini
    Astronot Bumi
    My Previous Blog

    .Home Dome.



    Greenpeace
    Fashionese Daily
    Astronomy.com
    Urban Kinetics
    Kutu-Kutu Buku
    Design Milk
    Build it Green
    Twitter.com


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed


    Thursday, September 17, 2009
    Teman-temanku yang Budiman

    The cure of today: Fool on Parade – Marie Digby


    I might not be the best friend you could ever have.

    Masalahnya ada pada mulut gw yang bertindak separatis, bertindak frontal tanpa ada musyawarah mufakat dengan otak dan perasaan manusiawi. Umpamanya, bila saya adalah mainan Barbie seri terbaru, mulut dan badan saya pasti dijual terpisah ehem. Setengah merajah okultisme, adalah sifat alami para Leo untuk bertindak tempe dan ramen dan straight to the point kepada hal yg tidak disukainya. Dipercaya ini dipengaruhi oleh planet Uranus yg secara misterius mengandung kata ANUS di dalamnya. Ini merupakan misteri Oke, skip. Inilah yg membuat gw agak susah punya teman non-psikotik atau teman neurotik atau teman hujat-able. Dua kata terakhir mohon distabilo kuning neon.


    Bukan berarti semua orang harus bersikap ini itu. Toh gw pun tak selalu seperti apa yang diharapkan orang lain, tetapi yang namanya ekspetasi pasti setiap orang punya. Kadang orang-orang jadi berpikir bahwa gw adalah tokoh meta-protagonis yang berpikir semena-mena terhadap orang lain, tentu dalam edisi tanpa eyeshadow hijau berglitter, eyeliner, bulu mata palsu tebal, mata menyipit dan rahang meggelinjang. In fact, ketika seseorang meng-insult orang lain, dua kemungkinan yg terjadi adalah subjek yang superfisial atau memang si objek sendiri yg mengundang mispersepsi dan konfrontasi dan 90% penghujat yang berkelamin vagina kemungkinan mengaku karena PMS. Nggak mungkin juga kan gw merilis berbagai hujatan tanpa alasan yg nggak jelas? Kecuali tentu kalau ananda punya tameng PMS *batuk rejan*. Pertanyaannya adalah, bukankah Toko Gunung Agung seharusnya menjual gunung? ..oke, skip. Orang-orang yang mengundang masalah ini berasal dari berbagai jenis yang gw bagi jadi 5 tipe, yaitu:


    1. Tipe Saya [terlalu] Mendekatkan Diri Kepada Tuhan

    Tipe yang satu ini selalu siap stok berbagai ayat suci sebagai pendukung untuk menginterupsi pendapat orang lain, bahkan untuk sekedar pendapat yang sifatnya hanya sekilas angan-angan. Orang tipe ini sangat memuja agamanya sehingga tidak mengenal hal duniawi lagi dan mengaku selalu ingin mendekatkan pada Tuhan yang otomatis rasanya ingin saya lebih dekatkan lagi kepada Tuhan di akhirat. Contohnya:

    [Orang A]: coba kalau beneran ada alien kayak Keanu Reeves..
    [Orang B]
    : TETAPI TUHAN MENYEBUTKAN BAHWA ALIEN ITU TIDAK ADA SEPERTI PADA AYAT.. *pret*


    2. Tipe Saya Anak Gahul dan Trendi

    Tipe yang satu ini adalah tipe yang selalu mengupdate segala kegiatannya di Facebook/Twitter dengan akidah “saya gaul banget lho update terus”, selalu berusaha menyebutkan nama merk dan tempat yang diasumsikan sangat sophisticated, dan berpakaian khas, ntah itu sejenis dengan pakaian yg sedang merajalela atau jauh dari mainstream tapi jatohnya maksa. Dan bahasa Inggris ga jelas. Contohnya:

    [username] going to Starbucks @ Sarinah. Let's rape.
    [username]
    going shop to Plaza Indonesia.


    3. Tipe c0mBonG bGtz ciYy,,

    Adalah tipe orang yang menggunakan metode enkripsi canggih pada tulisan-tulisannya sehingga butuh meditasi 4 hari untuk orang normal untuk dapat membacanya. Tipe ini juga sangat sensitif dan sangat tidak sabar. Bila sebentar atau agak lama menanggapi pesan yang mereka kirim, mereka akan sigap mengirim rentetan pesan yang menanyakan kenapa anda tidak balas pesannya dan sebagainya dalam selang waktu beberapa puluh detik saja. Bila tidak ditindaklanjuti, tipe ini akan langsung mengatai anda sombong. Yeah.


    4. Tipe [agak] Eksis dan Haus Pujian serta Simpati.

    Tipe ini adalah yang selalu menulis statusnya dengan pengakuan yang ingin mendapat pujian dan simpati dari orang lain. Biasanya berisi monolog dia untuk Tuhan atau memamerkan sesuatu yang [sebenarnya bukan yang] bisa dipuji oleh banyak temannya. Kadang mirip dengan tipe 2. Contohnya:

    Tuhan, kenapa Engkau memberikanku luka di hati ini, dia tidak bisa blabla..emangnya Tuhan main FB?
    ...ada 38 new messages, 92 friend requests, dan 4.937 friends di FB
    Mending ke Bandung atau shooting ya? ..tolong kecup kaus saya, mbak artis!


    5. Tipe Sok Kenal dan Sok Tau

    Tipe yang satu ini sangat menyebalkan. Selain karena tidak begitu kenal tapi serasa sudah melewati 1000 malam bersama, terkadang melontarkan pernyataan sok tahu. Biasanya ini adalah sindrom orang-orang yang agak mengidolakan anda atau mengidap narsisme yang menghindari benda kaca. Repotnya, kalau ditanggapi baik-baik dan agak intens, perasaannya akan melejit sehingga tambah seperti sudah 2000 malam bersama. Kalau pun dikonfrontasi, mentalnya akan hancur sehingga berbalik mengatai anda. Contohnya,

    [username] hai, lagi ngapain nih? Udah makan belum? Kangen u deh.
    [username]
    pacarmu yang mana sih? Pasti kamu sama dia blabla..

    Jadi, bila anda termasuk ke dalam salah 1 kategori di atas, dengan segenap hati dan jiwa raga dan segala birahi, lebih baik jauhi saya saja. Terimakasih.

    Posted at 05:25 pm by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (7)  

    Wednesday, July 29, 2009
    Berkibarlah benderaku~


    The cure of today: Balamb Garden – Nobuo Uematsu

    Bitch. It's been a while and I appear to have developed an aphasia. Feels weird yet contented, to smack write things up again on this dysfunctional-abusive-obnoxious-whatsoever blog, indeed. I must catch up on my journal because I won't let you humans live out happily ever after. Never ever. Sudah, sudah cukup nginggris-nginggrisnya, tangan saya sudah pegal buka-buka kamus kompeni. Ehem.


    Sebelum alinea-alinea berikutnya dijejali soliloquy berlebihan, apa kabar para penghujat setia saya? Apa kabar boneka-boneka santet jerami yang ditempeli label Helda Vanessa? Saya sendiri—sayang sekali—sehat sentausa, tergolek manja di masa-masa liburan panjang memasuki semester tiga. Tidak ada hal yang khusus selain kemampuan destruktivitas dan menyampah saya di kamar yang semakin meninggi *disodomi pakai dongkrak mobil*. Anyway speaking of sampah menyampah, beberapa waktu yang lalu user Indonesia sempat terjadi hype sudden-nationalism. Berbagai reasuransi, dukungan, spamming #indonesiaunite memenuhi situs mikroblog Twitter, bahkan sampai rela mengembel-embeli avatarnya dengan bendera kebangsaan merah-putih. Fenomena ini awalnya terjadi sebagai reaksi menentang aksi terorisme atas pemboman Ritz Carlton dan Marriott. Aksi heroik, sampai 24 jam pertama. Pada jam-jam berikutnya #indonesiaunite lebih mirip sebagai trend nasionalisme yang repulsif dan histrionik. Sebut saja kata Nasionalisme di depan muda-mudi beberapa jam sebelum aksi detonasi, mungkin hanya alis sebelah yang terangkat curam lalu serentetan sumpah serapah mengikuti dalam birama 2/4 yang keluar. Ironis bagaimana dua buah bom dapat membeli rasa nasionalisme yang tadinya dianaktirikan kemudian mudah diucap. Seperti puluhan karya Van Gogh, seperti putarbalik justifikasi media massa terhadap MJ dari pedofilia menjadi raja, seperti itik buruk rupa yang dipujapuji setelah tumbuh menjadi angsa.


    Jujur saja, saya bukan seorang nasionalis, tetapi seorang realis. Bagi saya nasionalisme adalah bukan berarti harus dilihat kekuatannya di mata dunia, bukan sesuatu yang harus dikoar-koarkan, bukan hanya beratribut pujian lalu selesai, bukan sebagai alibi untuk tumpang naik pamor dan sejenisnya. Keindahan nasionalisme muncul dalam ketulusan ketika melakukan hal-hal kecil tanpa harus terlalu diumbar. Kekuatan nasionalisme muncul dalam pemikiran dan kritik-kritik untuk keadaan bangsa yang lebih baik. Sejauh ini pertanyaan yang menggelitik saya cuma “sampai kapan kalian bisa bertahan?” .. I might sound way pessimistic. Saya percaya masih banyak warga negara Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme yang utuh, bukan seperti rambutan yang main musiman atau cuma liat kondisi situasi, bukan yang 'pasang bendera dulu, intinya belakangan'. Seperti mencintai seseorang, mencintai negri sendiri juga membutuhkan waktu dan proses. Cinta itu tumbuh, bukan sesuatu yang mendadak nangkring lalu pegal dan jatuh. Tak perlu berbicara besar-besaran kalau belum memulai dari yang kecil. Tidak perlu #indonesiaunite dulu. Tidak perlu. Cukup dengan secangkir kopi dulu. Sungguh.

    Posted at 01:34 pm by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (5)  

    Saturday, May 30, 2009
    Lets tok in inglissss

    The cure of today: Science and Religion – Hans Zimmer


    Beberapa waktu yang lalu secara dadakan saya melasak menuju Djakarta XXI untuk bertemu beberapa teman dan membiarkan mata sedikit berajojing mantengin Mr. Bale di film Terminator Salvation. Tapi saya bukan mau membahas soal si Bale efek 3D CGA, dan segala macam tetek bengek Terminator di sini, jadi simpan saja seluruh pikiran kotor anda itu. Ihiy Sebelum menjajal kursi bohay XXI, saya dan pasukan terlebih dahulu menjajah Burger King. Setelah bergunjing beberapa saat, salah satu teman, sebut saja V, mengkonfrontasi teman saya yang lain, sebut saja S, mengenai cara berbicaranya yang menginterspersi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara tidak natural. Interspersi tidak natural yang dimaksud di sini adalah pencampuran dua bahasa di atas dengan aksen, penempatan, dan grammar (meski yang satu ini sebenarnya tidak begitu diperlukan dalam daily conversation, bukan berarti lo bisa pakai seenak jidat juga kan *smirks*) yang tidak tepat sehingga saya pun cuma bisa bilang ...AI DONT RIHLI RIHLI ANDERSTEND WHUAT YU AR TOLKING EBAUT. Ah, dan tolong baca kalimat tersebut dalam aksen India.

    So, have you ever encountered people of this type?


    Untuk fasih dan lihai dalam sesuatu memang dibutuhkan efforts dan pasti melalui berbagai macam kesalahan atau disebut juga dengan proses. Pada tahap ini, mencampuradukkan bahasa merupakan hal yang dapat dimaklumi dalam konteks tertentu. Kalau berbicara kenapa, seringkali alis saya jungkat-jungkit melihat orang-orang yang menggunakan Bahasa Inggris dengan struktur benang kusut cuma karena mau dibilang keren (atau mungkin obsesi go internasional-internasionalan kayak Agnes Monicah? HUAHAUHA). Tidak susah menemukan kalimat semacam “I am liking to photograph” atau “He bitch. Dasar cewe jalang. I hate her, dun want see he again” (ini apa pula, main ganti-ganti kelamin.XD Demi Surga) di mikroblog, profile page FS, FB, dan seterusnya. Bloody Chihuahua, I've had enough of this Cukup mengherankan bila mengingat rata-rata oknum tersebut setidaknya sedang atau sudah mengenyam bangku SMA yang notabene berarti setidaknya sudah menelan pelajaran Bahasa Inggris lebih dari 5 tahun. Kalau sudah begini, dengan berat hati saya harus sedikit menghujat. Ah, dengan TOEFL akhir SMA cuma 530an saja saya sudah pongah minta ampun begini. Bitch.


    Play it safe. Belajar lah bahwa: usaha pas-pasan plus salah lokasi plus show off plus bukan Cinta Laura *kayang* equals disaster. Kalau mau dianggap keren, (sangat diusahakan) gunakan dengan benar. You really have no idea, mungkin beberapa orang tak sengaja menangkap gaya ngeINDONGGRIS-INDONGGRIS™ anda itu diam hampir mati menahan ketawa atau sibuk menghujat ketidaktepatan aksen & struktur dalam hati. Yah kalo misalkan anda menggelar jambore khusus untuk para INDONGGRIS-INDONGGRIS™an sih aman-aman saja mau keren-kerenan pake Inggris yang noun kebolak-balik sama adjective dan past tense dicampurin present tense dengan tak senonoh dicampur aksen bugis plus aborigin. Sebagai pecinta Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, to be honest, i feel insulted. Saya sendiri adalah pengguna Indoenglish dalam tempat atau situasi tertentu. Seperti blog, Twitter, atau di suasana dimana saya mau meng-offense orang lain *HUAHAUHA *. Dengan pertimbangan yang tepat kapan harus mengunakan bahasa asing dan bahasa nasional, i feel so sexy ;)

    Posted at 11:50 pm by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (7)  

    Thursday, May 14, 2009
    SS: Manis

    The cure of today: Consepontowa – Leh


    Ceritakan, ada apa?” kau mencicit pura-pura perhatian.

    Ya begitulah...” suaraku meringsek juga.


    Lalu balada murahan kita dimulai. Manis dan enigmatis. Romantis? Najis.

    Kau menawarkan secangkir kopi dalam metafor. Sesekali tertawa bersama, tinggal seset rambutku 10 senti, kita dua mirip bujang tak ada kerjaan. Pria dibalik saluran bertarif murah itu menyeret-nyeretkan suaranya. Sok sensual, aku melengos. Kau tersenyum simpul mati lalu tertawa parau. Jam 3 pagi dan kita berbincang lagi, bergagauan lagi, bersimbah cinta lagi, kemudian masing-masing akan menutup telepon sambil menahan rindu. Hih, kok norak sekali. Beginilah jadinya bila dua muda mudi yang mengeja 'MEMBACA' saja terbata-bata ─mencoba menyabung kasih. Manis dan enigmatis.


    Jangan-jangan nanti kamu menginap bersama teman wanita.” satu alisku terangkat curam.

    Aku menginap bersama teman pria.” kau tersenyum menang.

    KETAHUAN SEKARANG, KAMU HOMO.” jelas, aku lebih menang. Manis dan enigmatis.


    Lalu dengan gejolak hormon layaknya serdadu, kau ajak temu. Aku risau hingga geraham bergetar, mondar-mandir ke titik yang sama dimana cermin berada. Setelah lama membelak, tak ada yang bermasalah kecuali memang struktur wajah yang patut dapat belasungkawa. Telepon genggamku bergetar tanda kau sudah di depan, oh inang. Kubuka pintu dan disitulah kau menyunggingkan senyum kuda. Kuda putih tanpa pangeran penunggangnya. Khayalku akan Cinderella berubah menjadi fabel kacangan, terimakasih. Aku tertawa sumbang dalam birama 4/4, menahan rasa malu tiap melihatmu. Lantas kau mengeluarkan keripik singkong kebanggaanmu untuk dimakan berdua. Ha. Keripik singkong kan makanan sipil, protesku. Kau tertawa, keripik aku habiskan semua, lalu kita berangkulan bersama. Manis seperti biang gula.


    Kamar ini sudah terlalu bau cinta, dan keringat kita.

    Kau pura-pura tertidur. Aku pura-pura tak tertidur.

    Salah satu mengintip penuh harap, lainnya menunggu hingga sarap.

    Lalu kita lumat lagi, lagi, dan lagi. Manis. Enigmatis.


    Oleh: Helda Vanessa
    Inspired by a true story :p

    Posted at 02:18 pm by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (7)  

    Tuesday, May 12, 2009
    Rendezvous

    The cure of today: Honeysuckle – Orange Pekoe


    Jangan senang dulu. Saya masih hidup.

    Jadi lupakan usaha anda membakar kemenyan, dupa, dan bunga tujuh rupa demi matinya blog ini. Sungguh. Lebih baik bakar saja asmara saya. Ehem. Rasanya sudah lama sekali tidak menulis blog, kemampuan diksi & abominasi saya bahkan melemah. Tampaknya hal ini menjadi indikator kuat bahwa dunia mendekati Armageddon. Ah, pembicaraan ini jadi semakin keluar konteks. Lalu, lalu, dengan tak tahu malu saya kembali mengisi blog disfungsional ini karena desakan kaum sipil *HUAHAHA* yang sepertinya merindukan kenajisan saya. Saya terharu karena beberapa kali menggelar konversasi ringan (yailah, bilang aja ngobrol) dengan beberapan teman(s), hampir selalu mendapati pertanyaan, “lagi sibuk ya? Update lagi dong blog-nya,” ..rasanya saya ingin sekali menjabat tangan manusia-manusia luar biasa ini satu per satu lalu berteriak, “OTAK KALIAN SUDAH DICUCI, KISANAK! HUAHAHAHAHAHA” --ehem. Ah, penulis macam apa saya ini, tidak ada manis-manisnya. Baiklah, sekian aja untuk preambul.


    Kembali pada sebuah pertanyaan klise, bagaimana kabar saya? Lalu songsong dengan jawaban klise pula, kabar saya baik-baik saja. Pada poin ini tepat sekali jika anda berteriak “GET A LIFE, BITCH!” kemudian menarik pelatuk headshot ke kening Helda Vanessa. Uhuk. Sebenarnya pun saya tidak sesibuk itu, hanya saja karena terlalu asik dengan dunia sureal sendiri, jari jemari saya menjadi malas mengetik panjang-panjang. Terkadang ketika mood nulis kritikan blog muncul, kondisi fisik saya sedang tidak memungkinkan. Sehubungan soal fisik, frekuensi saya jatuh sakit sekarang meningkat tajam seiring bertambahnya film horror Indonesia. Hih. Gejalanya pasti demam, badan nyeri-nyeri, perut sakit, kepala senut-senut, wajah imut-imut *cough*. Dan pada akhirnya saya memilih mendekam terus di kamar, bergelung dalam selimut, membayangkan beberapa hari ke depan seseorang akan menemukan saya sudah terkujur kaku dikerubungi sekelompok merpati putih nan lucu. BAGAIMANA PULA BISA ADA MERPATI DI DALAM KAMAR?! Ah, sudahlah. Sepertinya logika saya sudah tercampuraduk dengan bayang-bayang Kid si Pembantai. Atau Batosai si Pencuri? Hmm.

    Nulis apa lagi ya... otak saya terasa kebas.

    Oh iya, follow saya di Twitter dong, http://twitter.com/frauassenava
    Yang nggak punya Twitter, ayo sign up biar bisa nge-follow saya.
    Ih, motivasinya norak. Huahahahaha.

    Posted at 12:22 pm by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (2)  

    Friday, April 03, 2009
    Aching.

    The cure of today: Part of Your World – OST Little Mermaid

    MASIH JUGA KAU TIDAK PEDULI?
    Saya tidak mengakuimu sebagai ibu lagi.
    Tidak akan lagi. Sampai kapan pun.
    Terimakasih atas sumbangasih mu membuat luka.
    Pada ayah, saya, dan mereka.

    Posted at 08:20 pm by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (5)  

    Saturday, March 28, 2009
    I have the power of choose.

    The cure of today: Hide and Seek – Imogen Heap


    Setelah 18 tahun 8 bulan lamanya,
    Setelah jatuh bangun dinasti Yuan, Ming, Qing, Njing, Nyet,
    Setelah 7 seri Tersanjung, 7 deadly sins, dan 7 jilid Heri Poter,
    Outrageously, surreally, despicably,

    Saya berencana untuk mengkonversikan kepercayaan saya.

    Keputusan ini tidak dibuat semudah menghitung bulu kaki atau mengupas kulit duren dengan tusuk gigi. Banyak pertimbangan yang membuat otak kebas, seriously. Terlebih, pada dasarnya gw amat sensitif dengan masalah prinsipil dan menolak mentah-mentah dogmatisme. Bagi gw agama atau kepercayaan adalah hal yang sangat subjektif karena pokok utama yang diinterpretasikan adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya valid. Karena alasan ini untuk beberapa tahun lamanya gw diam-diam lebih memilih tidak berurusan dengan agama apa pun secara spesifik, meski secara spiritual tetap percaya akan adanya Tuhan. Berada dalam status Universalis juga bukan hal yang mudah karena gw benar-benar meraba dan menentukan sendiri apa aja yang akan djadikan sebagai tonggak ukur. Melelahkan, harus gw akui. Seperti yang udah gw tulis di atas, pada akhirnya gw merencanakan untuk melakukan konversi kepercayaan yang akan terlebihdahulu dimulai dengan mematangkan pemahaman akan agama tersebut. Bukan berarti gw mengeradikasi prinsip postmo yang selama ini gw sanjung. Sejujurnya, justru kepercayaan yang gw pilih ini, yaitu Buddhism, adalah paham yang sejauh ini paling merepresentasikan pandangan gw akan kehidupan. Gw hanya mengharapkan sebuah pengertian, tanpa menuding-nuding bahwa gw telah menjadi korban Proselytism dan sebagainya. Gw hanya berusaha untuk tidak munafik, menentukan sendiri apa yang sekiranya terbaik buat gw. Prosesnya pun akan masih sangat panjang dan gw akan berusaha untuk menjalaninya. Thankyou :)


    p to the s: buat yang memiliki jalan pikir yang sama, saya pastikan bahwa jaminan kebebasan memilih kepercayaan ada di sini. Baca juga ini.:)

    Posted at 01:18 am by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (8)  

    Saturday, March 21, 2009
    My life still goes on: part I

    The cure of today: Clarity – John Mayer


    Stop! Why don't you go get a life??

    LIFE PART I: THE ACADEME

    It's been a while, a while since i wrote down all the excitement of life, achievements, and bliss. So, let's quieten down, and get rid of serious things i noted! Fuck them all. Raise up your glass, cheers!


    Kalau anda bertanya-tanya apa yang sebenarnya saya kerjakan selain mengevaluasi dan mengkritik orang lain melalui blog kutu kupret ini, I'm still undertaking my undergraduate course Siklus kehidupan masih tidak patut dicontoh seperti biasanya, menunda pekerjaan sampai sesaat sebelum deadline, menindas kawan yang lemah, menggesek-gesek kartu debit untuk berhedonisasi, menggelar jambore sekte maksiat di kamar yang berhiaskan replika gurita hitam kayang dan beribadah menggunakan kitab hitam Tipografi. Mengenai kuliah, CB, Teori Warna dan Nirmana Datar hilang di peradaban semester ini. Euforia! Sebagai gantinya, saya menukarkan nyawa kepada mata kuliah Tiporgrafi, Fotografi, dan DKV I. Dosen? Kini saya harus kehilangan herr Merdi dan mengemis nilai kepada herr Tytton yang berdarah dingin di mata kuliah Menggambar II. Saya menduga beliau merasakan orgasme hebat setiap kali memberikan tugas menggambar kepada anak didiknya sehingga bisa dibayangkan betapa senangnya beliau menghibahkan kami misi suci untuk dipenuhi Yang sedikit menarik adalah semester ini saya MASIH HARUS berhadapan dengan nyonya Indra Tj, dosen Bahasa Inggris yang memasukkan saya ke daftar hitam di semester 1. Menarik? Ya, karena dosen ini adalah dosen yang paling sering mendapat EYD [Ejekan Yang Disempurnakan] di class PFU. Oh tapi tentu, saya tidak akan menertawakannya karena dia memakai kemben mbok jamu jawa motif kembang ke kampus lengkap dengan atribut rambut cepolannya. Saya juga tidak akan menertawakannya karena kemben jawa itu pernah beliau padupadankan dengan sneakers plus tas ransel yang aduhai kontrasnya. Apalagi mengenai beliau membuat 1 file ppt tersendiri khusus memamerkan dimana dia mengenyam S1, S2 dan S3-nya kepada mahasiswa di awal perkuliahan, oh tentu saya tidak akan menertawakannya. Sungguh. Dan jangan melihat saya dengan tatapan seperti itu *batuk darah*


    The academe's getting pretty lame down to the bad rescheduling. Setiap hari pulang paling cepet jam 5 sore. Sisa waktu yang ada hanya digunakan untuk berkerak di kasur, menggelinjang mengerjakan tugas, dan menghibur diri bermain kelamin game. Kapasitas saya hampir mencapai titik kulminasi Bahkan kadar aspirasional yang pernah saya ledakkan di awal semester ini, perlahan luruh jadi abu (lagi). Kini setiap saya menjumpai kampus, saya harus bergelut dengan perasaan emosional yang menggoda saya untuk melempar bensin dan korek api ke ruang akademis sambil tertawa keji *alah*. Tapi mengingat dana yang sudah diinvestasikan oleh orangtua, saya hanya bisa melangkah ke dalam kelas lengkap dengan latar belakang musik “...itulah tandanya anak berpretasi!” shit.

    Posted at 11:53 pm by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (5)  

    Listen to the sounds..

    The cure of today: Rikku's Theme - Final Fantasy X


    time to relax, while listening to FFX piano collection... (pic by Liz Wofle)


    Belum lama ini gw mencoba menumbalkan diri untuk lebih jauh mengetahui efek suara binaural dalam 2 bentuk yang berbeda, yaitu musik dan simulasi gelombang otak. Sebelum menelanjangi perjalanan eksperimen Helda Vanessa yang heroik, ucapan terimakasih saya hantarkan kepada pihak-pihak yang sangat membantu, terutama Yang Terhormat Toshiba Satellite M100 dan Punyu2 Munyu yang memanaskan gairah saya di tengah kegelapan malam. Alah Keenion KDM-219. Cough.


    Mungkin hampir 100% seluruh manusia menyukai musik, entah itu musik klasik, hip-hop, jazz, punk, blues, pop-rock, tradisional, dan sebagainya. Musik memang diakui memiliki afeksi kepada kondisi mental seseorang yang kemudian dipelajari dalam psikologi musik sebagai percabangan baik dari ilmu psikologi maupun musikologi. Musik memiliki syntax meliputi melodi, harmoni, rhythm, meter, bentuk, dan tonalitas yang dapat mempengaruhi mood dan perilaku secara tidak langsung. Gw melakukan percobaan mudah yaitu secara bergantian mendengarkan genre musik yang berbeda dalam waktu yang cukup lama. Sangat jelas terdapat perubahan emosi yang drastis dari ketika mendengarkan Eternity Memory of Lightwaves [Final Fantasy X] dengan Dead! [My Chemical Romance]. Percobaan lain yang lebih intens dilakukan oleh David Merill. Beliau memisahkan 2 kelompok tikus yang masing-masing diperdengarkan 2 jenis musik yang berbeda secara terus-menerus, yaitu klasik dan heavy-metal. Eksperimen ini menunjukkan bahwa kelompok tikus musik klasik menunjukkan peningkatan dalam perihal maze solving sedangkan kelompok tikus heavy metal malah berakhir dengan aksi saling membunuh 1 sama lain. See? Pemaparan ini ditulis bukan dengan maksud mengintimidasi para pecinta heavy-metal, gw lebih berniat untuk menghighlight bahwa manusia membutuhkan emosi yang berbeda-beda dalam hidupnya sehingga jenis musik lain juga sangat dibutuhkan untuk melengkapi kondisi psikologis seseorang.


    Suara binaural juga dikeluarkan dalam bentuk gelombang suara dalam frekuensi tertentu yang dapat mempengaruhi otak. Dalam hal ini gw menggunakan bantuan i-Doser v4, yaitu sebuah aplikasi yang dapat mensimulasikan brainwave. Untuk percobaan yang aman, Quick Happy adalah dosis yang gw coba pertama kali secara fokus. Dosis ini merubah gelombang otak dari alpha 10hz menjadi .20hz yang memberikan efek antidepresi dalam 5 menit. Gw sendiri merasakan perubahan mood yang lumayan signifikan, setidaknya membuat tampang gw yang tadinya lempeng kaya tol Jagorawi jadi lebih cheer-up kaya maling daleman dapet beha-nya Aoi Sora. Dosis lain yang menarik untuk dicoba adalah alcohol. Kalau mau lebih ekstrim, disediakan pula dosis Marijuana, Genesis dan Hand of God yang dapat membuat seseorang melihat berbagai halusinasi. Efek-efek narkotik tersebut benar-benar dihasilkan hanya dari simulasi suara binaural gelombang otak. Bukankah menarik? Hanya dengan mendengarkan suara kresek-kresek dapat membuat anda lari-lari dan ketawa dengan bar-barnya.


    Aksi 'penumbalan diri' ini membuat gw menyadari sepenuhnya bagaimana serangkaian suara dapat begitu mempengaruhi emosi dan tindakan manusia. Gw mengagumi bagaimana prosesnya bekerja dan mensyukurinya sebagai salah satu bagian dari penciptaan-Nya. Dan sekali lagi, membuat gw ingin kembali memainkan piano untuk menyenangkan hati segala orang yang ingin mendengarkannya :)

    Posted at 02:05 am by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (7)  

    Friday, March 20, 2009
    Photography I: Hunt or be hunted?


    Ki-ka: Ghea, Ratna, Catherine, Eunike, Helda, Jennyver

    IT WAS FUN, GIRLS :)

    Posted at 05:45 pm by FujiwaraYuuki
    Blahblahs (4)  

    Next Page