|
The cure of today: Balamb Garden – Nobuo Uematsu Bitch.
It's been a while and I appear to have developed an aphasia. Feels
weird yet contented, to
Sebelum alinea-alinea berikutnya dijejali soliloquy berlebihan, apa kabar para penghujat setia saya? Apa kabar boneka-boneka santet jerami yang ditempeli label Helda Vanessa? Saya sendiri—sayang sekali—sehat sentausa, tergolek manja di masa-masa liburan panjang memasuki semester tiga. Tidak ada hal yang khusus selain kemampuan destruktivitas dan menyampah saya di kamar yang semakin meninggi *disodomi pakai dongkrak mobil*. Anyway speaking of sampah menyampah, beberapa waktu yang lalu user Indonesia sempat terjadi hype sudden-nationalism. Berbagai reasuransi, dukungan, spamming #indonesiaunite memenuhi situs mikroblog Twitter, bahkan sampai rela mengembel-embeli avatarnya dengan bendera kebangsaan merah-putih. Fenomena ini awalnya terjadi sebagai reaksi menentang aksi terorisme atas pemboman Ritz Carlton dan Marriott. Aksi heroik, sampai 24 jam pertama. Pada jam-jam berikutnya #indonesiaunite lebih mirip sebagai trend nasionalisme yang repulsif dan histrionik. Sebut saja kata Nasionalisme di depan muda-mudi beberapa jam sebelum aksi detonasi, mungkin hanya alis sebelah yang terangkat curam lalu serentetan sumpah serapah mengikuti dalam birama 2/4 yang keluar. Ironis bagaimana dua buah bom dapat membeli rasa nasionalisme yang tadinya dianaktirikan kemudian mudah diucap. Seperti puluhan karya Van Gogh, seperti putarbalik justifikasi media massa terhadap MJ dari pedofilia menjadi raja, seperti itik buruk rupa yang dipujapuji setelah tumbuh menjadi angsa.
Jujur saja, saya bukan seorang nasionalis, tetapi seorang realis. Bagi saya nasionalisme adalah bukan berarti harus dilihat kekuatannya di mata dunia, bukan sesuatu yang harus dikoar-koarkan, bukan hanya beratribut pujian lalu selesai, bukan sebagai alibi untuk tumpang naik pamor dan sejenisnya. Keindahan nasionalisme muncul dalam ketulusan ketika melakukan hal-hal kecil tanpa harus terlalu diumbar. Kekuatan nasionalisme muncul dalam pemikiran dan kritik-kritik untuk keadaan bangsa yang lebih baik. Sejauh ini pertanyaan yang menggelitik saya cuma “sampai kapan kalian bisa bertahan?” .. I might sound way pessimistic. Saya percaya masih banyak warga negara Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme yang utuh, bukan seperti rambutan yang main musiman atau cuma liat kondisi situasi, bukan yang 'pasang bendera dulu, intinya belakangan'. Seperti mencintai seseorang, mencintai negri sendiri juga membutuhkan waktu dan proses. Cinta itu tumbuh, bukan sesuatu yang mendadak nangkring lalu pegal dan jatuh. Tak perlu berbicara besar-besaran kalau belum memulai dari yang kecil. Tidak perlu #indonesiaunite dulu. Tidak perlu. Cukup dengan secangkir kopi dulu. Sungguh. |
| Purisuka August 1, 2009 10:31 PM PDT kalo kata gw gerakan #indonesiaunite ini bagus pada awal2nya aja....lama kelamaan tweets-nya jadi pada maksa dan dibuat-buat... btw gw jg termasuk yg memasang bendera merah putih di avatar dan gak nyesel makenya, alasannya sama seperti pada komen saudara Seyren di bawah *btw salam kenal seyren :)*, sama sekali bukan mau sok sok nasionalis atau apa :P oiya ada satu tulisan bagus tentang hal ini juga dari salah satu blogger: http://rumputeki.multiply.com/journal/item/202/202 | ||
| dewi persik July 30, 2009 12:26 PM PDT saye syudeh meramalkan sebelumnya kalo #indonesiaunite itu hangat hangat tai ayam, tetapi saya sependapat dengan ses seyren *sungkar*, seperti peribahasa yang ada di buku tulis sinar dunia, lebih baik sedikit lama lama jadi bukit *ah, mirip seperti itulah*. semoga ses mengerti apa maksut dan tujuan saya. saya agak gagap kalau bicara. unee, kamu didenda karena menggunakan hashtag tidak pada tempatnya. salam hangat selalu dari bunda, ajeng syahreza *cups | ||
| Seyren July 29, 2009 06:45 PM PDT Haha, I think this just shows how #indonesiaunite is a lot of things to a lot of people, Da. :) I'm not a nationalist. Never was, never will be. Walopun avatar Twitter gw diembel-embeli bendera merah putih yang kecil itu, gw ga nempelin itu hanya supaya gw bisa ikut-ikutan teriak-teriak soal "ga takut" atau memuja-muja Indonesia bareng muda-mudi laen di topik itu. In fact, I barely use #indonesiaunite at all in my tweets. Buat gw, keberadaan bendera di avatar gw itu bukan untuk nunjukin kalo gw punya rasa nasionalisme yang tinggi dan siap menumpahkan darah melawan teroris yang berani menginjakkan kaki di negara gw, oh bukan. Malah kalo mau jujur, I care about humanity a lot more than I care about Indonesia (maafkan anakmu ini, oh Ibu Pertiwi). Untuk gw pribadi, bendera itu adalah simbol, untuk nunjukin kalo gw adalah warga negara Indonesia yang tau soal pengeboman itu dan ikut berduka untuk semua korban, dan juga untuk nunjukin kalo gw sedikit mirip sama Zhang Ziyi. *dirajam batu oleh massa* The killing of innocents is probably the one thing I detest more than Manohara (alah), dan gw yakin perasaan gw terhadap hal itu akan tetap ada walopun "nasionalisme dadakan" itu sudah lama terlewat. :) Dan maafkan aku yang sudah menyampah panjang lebar di blogmu hanya untuk menambahkan pandangan saya terhadap #indonesiaunite ini, djeng Helda. *cuph* | ||
| Helda July 29, 2009 02:06 PM PDT ah Unee, ga usah denial begitu, aku ga keberatan kok di-ngepens-in. Gapapa kok, beneran. Santai aja kali. uhuk. *diunyengunyeng* | ||
| unee July 29, 2009 01:48 PM PDT Adduhhh.. saya juga mau nulis iniiii. AH !! Saya pasti dikira ngepens sama situ. Padahal saya kan ngepensnya sama #FPS * penggunaan hashtag yang tidak pada tempatnya * | ||
| Leave a Comment: |